Wednesday, January 30, 2013

diam


Kenapa selalu berada di antara dua nama.
Dan kenapa masih mempedulikan keduanya.
Atas nama kebahagiaan, ucapan selamatku untuk kalian.
Aku sudah tidak lagi bersama rasa takutku akan kehilangannya.
Kini aku bersama rasa takut yang berbeda, rasa takut akan kehilangan-Nya.
Aku ditegur-Nya untuk mencari kebenaran atas kebahagian.
Dan kebenarannya adalah kondisi ini.
Tanpa banyak kata.
Tanpa banyak cerita.
Mengakhiri dengan menyimpan rasa yang sama.
Aku, si "pendiam" yang selalu berharap kau berpikir.

Tuesday, January 22, 2013

Siap, udah naik.

Brrrr kenapa udara pagi ini ngga enak, anginnya angin pembawa penyakit. Badan udah mulai ngga enak, flu, batuk, bikin suara serak, mau ngomong juga susah apalagi teriak. Pengen rasanya ngerokin ini tenggorokan atau beli penyedot dahak di toko material (kalo ada yang ngejual). Untung ke sekolah tinggal nebeng motor bokap gue, ngga usah repot2 naik bis yang bentuknya udah doyong ngga karuan saking kebanyakan penumpang dan kalo ngeberhentiin harus teriak2. 

“Mah, berangkat sekolah dulu yaa”. Beres pamit, gue keluar rumah. Bokap gue udah standby di depan rumah mau ngantor sekalian nganterin gue sekolah. Ngga nyampe 20 menit, bokap gue dan motor kesayangannya udah nyampe depan sekolah. 

“Udah nyampe sekolah” kata bokap gue, itu tanda peringatan kalo gue udah nyampe depan sekolah dan harus turun, cium tangan terus masuk kelas. Itu yang biasanya dilakuin tapi kali ini ngga ada yang cium tangan, ngga ada yang lari-larian masuk kelas. Bener bener yang nyampe cuma bokap dan motornya. Nah lho, bokap kebingungan, mana anaknya. Perasaan tadi berangkat dari rumah niatnya mau ngantor sekalian nganter anaknya (gue) ke sekolah tapi di jok belakang ngga ada siapa-siapa. Bokap gue masuk sekolah dan manggil2 temen kelas SMP gue. Bokap nanyain keberadaan gue, kenapa ngilang. Temen gue bilang, kalo gue belum ke sekolah apalagi ke kelas. Bokap makin kebingungan. Terus tadi nganterin siapa. Bokap udah telat masuk kantor tapi lebih mentingin nyari anaknya yang ngga tau kemana. Bokap balik lagi ke rumah. Dan bener aja, gue ketinggalan. Gue duduk aja di teras rumah, pengen nangis campur ketawa, entah itu gimana rasanya. 

Flashback tadi pagi, jadi pas bokap gue nyalain starter motor pas mau berangkat, terus ampir mau naik ke jok, bokap gue maju duluan sebelum gue naik. Dengan keadaan suara yang timbul tenggelam, gue ngga bisa teriak “tungguin tungguin”. Entah apa yang lg dipikirin bokap gue, badan gue emang kecil, pendek, ada atau ngga ada di jok motor mungkin ngga ada beda kali. Dan gue akhirnya nyampe sekolah kesiangan, kesiangan banget. 
Sejak itu, tiap gue mau dibonceng, gue ada ritual pertanda udah naik jok. Gue kalo udah naik jok, harus bilang “siap, udah naik” >.<

Monday, January 7, 2013

Antara Penting dan Tidak Penting

C1
penanya: eh, sekarang kamu lagi deket sama siapa?
me        : Alloh dan keluarga.
penanya: &%@#$%%^%$#


C2
penanya: dia masih ngedeketin kamu? ngga kan? soalnya dia lagi deket sama cewe lain.
me    : kalo iya kenapa kalo ngga kenapa?
penanya: &*%$#@$%%$@$


C3
penanya: aku ngga pernah tau kamu punya pacar.
me     : ^_^
penanya: &*%$#@$%%$@$


C3
penanya: sekarang kamu masih deket sama dia?
me     : aduh tugas buat besok udah dikerjain belum?
penanya: &%@#$%%^%$#&*


C4
penanya: ko kamu ngga suka cerita lagi deket sama siapa.
me     : tau-tau nikah aja.
penanya: &%@#$%%^%$#


C5
penanya: kalo ada yg suka kamu, gimana?
me    : hak asasi dia. Asal jangan cewe.
penanya: &%@#$%%^%$#


C6
penanya: ciee sekarang udah move on kan?
me    : ^_^
penanya: &%@#$%%^%$#







Thursday, December 13, 2012

my real competition




“Semangat tandingnya, xxxxxxx”

Begitu, isi pesan singkat darimu.

Masih selalu ingat, 9 Mei 2012.

Senang, pada awalnya.

Aneh, pada akhirnya.

Bukan.

Bukan aku.

Bukan aku yg dia maksud.

SMS masuk ke inbox HP-ku tapi sepertinya bukan ditujukan ke inbox HP-ku.

Pikirku, “ya, ini yg namanya salah kirim”

Siapa dia?

Sepertinya dia orang yg sedang melakukan kegiatan sama denganku.

Sempat menerka beberapa nama.

Apa perlu menyalahkan jari-jari yang salah saat mengetik SMS?

Tidak, sepertinya.

Ejaan keypad hapemu, aku tau.

Berjenis qwerty.

Namaku dan namanya jelas tidak berdekatan di keypad hapemu.

Ah, buat apa aku tahu.

Tidak ada alasan buatku untuk mengatahui urusanmu karena itu urusanmu dan dia.

Aku sudah bilang, mundur.

Berarti ke-9, yah benar dia perempuan ke-9 di daftar ingatanku.

Cukup, jangan tambahkan lagi nama perempuan di daftar ingatanku.

Itu sangat mengganggu, asal kamu tahu.

Ramainya suasana pertandingan menyapu pikiran tentangmu.

Bergegas aku masukkan HP ke saku kecil tasku.

Anggap saja tadi hanya iklan.

Energiku untuk melanjutkan pertandingan, bukan untuk memikirkan yg lain.

Basket, itu fokusku sekarang.

Pertandingan final dimulai tapi lagi-lagi pikiran ini tidak fokus.

Ah, tolong katakan pada bola, “Bola, mari bersahabat”.

Ini bola timku, jangan biarkan lawan merebutnya.

Drible, mengumpan, menerima, shoot bola, lay-up di bawah terik matahari itu rasanya sangat melelahkan.

Sesekali peluh bercucuran dari balik angka 9 bagian belakang kaos merah hitamku.

Lelah tapi aku menyukainya.

Itu bisa sedikit meluapkan.

Itulah kenapa aku suka.

Belajar melawan rintangan di arah manapun.

Lihat, aku bisa, aku tidak kalah dengan perasaan takut.

Peluit berbunyi tanda pertandingan berakhir,.

Pertandingan basketnya saja yang berakhir.

Ah, sayang pertandingan “lain”ku masih terus bermain.

9 poin dariku diakumulasi dengan poin kawan-kawanku ternyata menghasilkan poin yang lebih banyak dari lawan.

Point timku lebih unggul dari lawan.

Ini yang dinamakan menang.

Iya, menang.

Usaha keras itu tak akan mengkhianati, itu kalimat dalam lagu sebuah girlband.

Pendukung timku bersorak, bangga, haru.

Serasa diiringi lagu queen, “we are the the champion”.

Ku amati satu persatu kursi penonton.

Tapi aku tidak mendapati kamu di sana.

Kenapa pikiran ini mengarah kesana lagi.

Moment-moment berangkulan dengan tim kawan, bersalaman dengan tim lawan dan wasit pun aku lupa.

Mulai tersadar oleh gadis berambut panjang bersama ibu separuh baya yang tiba-tiba ada di hadapanku untuk menyalamiku.

Gadis itu memiliki tatapan kosong.

Sempat kuduga dia tidak bisa melihat.

Tapi aku tidak boleh menduga sejauh itu.

Dan dugaanku benar, dia buta.

Tapi aku mencoba bersikap biasa.

Perkenalan pun dilakukan.

Namanya Unik, seunik orangnya yang selalu menatap masa depan dengan terang dibalik penglihatannya yang gelap.

Itu karakter yang aku dapat setelah mendengar cerita-ceritanya.

Obrolan singkat tapi berarti.

Masih tertegun dengan ucapan-ucapan gadis tadi.

Huruf-huruf A-Z bertumbukan di pikiran ini.

Sejenak amnesia, lupa menyusun kata-kata.

Berlalunya gadis dan ibunya pun aku tidak sadar.

Tuhan, gadis ini seperti surat dari-Mu.

Pantulan cahaya yang masuk ke mataku membutaku bisa melihat dengan jelas, terang, tetapi kenapa aku selalu melihat sisi gelapnya saja, membuat terang menjadi gelap, membuat gelap menjadi semakin gelap.

Terimakasih, Tuhan.

Aku harus memenangkan pertandingan “lain” yang sebenarnya.

Soraki aku dengan kata-kata penyemangat.

9-1 huruf saja, ”SEMANGAT”

Aku butuh kalian.

sempurna

Elusan lembut tanganmu, seperti baru terasa kemarin.
Ucapan bijak nasihatmu, seperti baru terdengar kemarin.
Semuanya hanya untukku.
Hanya sebentar.
4 tahun.
Tiba saatnya semua itu harus terbagi dua.
 Untuk aku dan dia.
Tanpa perlu neraca untuk menakarnya, semuanya sudah seimbang.
Itulah dahsyatnya kalian.
Sejak itu, semuanya terasa lengkap.
Aku, kamu, kamu, dia, dan Dia itu yang disebut SEMPURNA.
Jangan biarkan tamu memasuki rumah kita.
Jangan biarkan tamu menjemputku dari rumah kita.
Jangan sekarang.
Aku masih ingin merasakan kesempurnaan ini.
Aku takut terlalu bahagia dengan penghuni2 rumah baruku nanti.
Aku takut tidak berada dekat kalian saat kalian pergi.
Tiba saatnya aku pergi, Dia yang akan selalu menjaga kalian.
Tiba saatnya aku pergi, dia dan Dia yang akan menjagaku.

 -my beloved family-

Monday, November 26, 2012

drama dalam drama




 
“Putra, sepertinya kita putus saja”
“Tapi Fina,,,,, ko tiba-tiba?”
“Kamu kenapa sih, hubungan kita bukannya baik-baik saja?”
“Sudah, putra, tolong  jauhi aku.”



“shel, sheilaaa, knapa jd serius bgt nonton sinetronnya sih?”  teriak kanza.
“ohh hhaha iya iya, gregetan bgt liat sinetronnya, knapa hubungannya jd nggantung kaya gitu. Aku tahu mereka masih punya perasaan satu sama lain, tp knapa harus berpisah sepihak gitu.” kata sheila ngotot.
“ya udahlah, mereka mungkin belum siap satu sama lain, jodoh ngga akan kemana ko.” jawab kanza
“iya sih”. Dengan nada masih ngga rela, sheila hanya bisa meng-iya-kan.
“udah ah, aku mau tidur duluan, ngantuk berat”. kanza menutup pembicaraan.
Tidak disuruhpun, cerita sinetron tadi masih melekat dalam ingatan.
Oh tidak, sepertinya sinetron tadi merambatkan partikel-partikel formalin ke otak.
Awet, di ingatan.


"Rivan, kamu tidak mengerti karena tidak merasakan. Aku tidak mau semua ini makin bercabang. Sudah, Aku pergi saja. "
“tapi apa alasan kamu mengakhiri semua ini, Sheil?”
“alasan? semua ucapan aku selama ini nampaknya tidak sampai diolah ke otak.  Ucapanku seperti keluar dr lintasan yg seharusnya, hanya masuk telinga dan keluar begitu saja.”
“oke sheila, maaf”
“bersama untuk saling melengkapi itu nampaknya indah. Tapi nampaknya kalimat itu belum cocok untuk kita. Bersama untuk menyakiti salah satu, sakit, kalau kau mau tau.”
Itu sebagian percakapan akhirku dengan Rivan, malam itu.
Masih selalu ku ingat.
Kalimat yg berat tp malam itu terasa ringan, berasa sesaat ada di bulan, gravitasi saat itu mendukung drama ini berakhir cepat.
Akumulasi dari kesalahan sepertinya terbayar malam itu.
Tidak ada penyesalan.
Bukan tidak ada, tp tidak pada saat itu.
Aku tidak bisa tidur, amnesia.
Amnesia, lupa cara tidur nyenyak.
Padahal biasanya aku paling tau tidur nyenyak itu seperti apa.
Segala hal malam ini sepertinya tidak cukup bersahabat.
Ungu berubah jd hitam.
Sapi berubah jd srigala.
Bintang malah menghiasi drama malam ini dgn kerlipnya.
Padahal cocoknya hujan yg turun, seperti drama-drama di tv.
Ah sudahlah.
Habiskan malam ini bersama lagu-lagu Abdul and the coffee theory, two triple o, Maliq, Depapepe, dan fergie.
Malam-malam berikutnya mungkin akan berat mendengar lagu-lagu itu.
Aku tahu untuk mencapai kata SATU itu sulit karena memang kodratnya selalu berpindah-pindah.
Aku tidak mau terlalu lebih dalam mengikuti drama ini.
Drama cintaku mungkin belum berhak tayang.
Penonton pun akan kecewa bila akhirnya menggantung lg seperti ini.
Bulan apa ini?
Oh, bulan Mei, pertengahan Mei tepatnya.
Berarti besok tahun baru.
Tahun baru di kalenderku.



“Sheillaaaa, kenapa kamu? Tidur ko besuara gelisah gitu? Sampai-sampai aku kebangun."
“hmmmm, iya maaf"
Mimpi, itu mimpi
Tadi benar-benar hanya mimpi
Mimpi.
Iya, mimpi.
Gara-gara sinetron tadi.
Tidak ingin membayangkan semua ini akan pernah terjadi dalam dramaku sendiri.
Tuhan, semua ini drama dalam drama.
Aku ingin berhenti sementara dari drama genre cinta.
Dramaku tidak ingin dimainkan sekarang.
Nanti saja kalau sudah saatnya tayang.
Engkau sutradara terbaik untuk dramaku.
Aku ingin dramaku tayang nanti.
Drama yang membekas.
Sampai drama ini diakhiri oleh kematian pun akan terus membekas.

 
Powered by Blogger.